Perbedaan Guru di Era Prabowo Status, Gaji, dan Sistem Rekrutmen
.png)
SIMAK DAN MENGUNGKAP TIGA ENTITAS GURU
Perbedaan Guru Garuda, Guru Sekolah Rakyat, dan Guru Honorer menjadi topik yang banyak dicari masyarakat, terutama tenaga pendidik dan pemerhati pendidikan. Ketiga istilah ini sering dianggap sama, padahal memiliki perbedaan mendasar dalam status, sistem penugasan, serta sumber penggajian.
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.
🎓 KATEGORI SEKOLAH TAHUN AJARAN BARU 2026–2027
Mulai tahun ajaran 2026–2027, pendidikan dibagi menjadi 3 kategori sekolah:
1️⃣ Sekolah Unggulan Garuda
Sekolah khusus untuk anak-anak berprestasi dan cerdas istimewa, dengan IQ di atas rata-rata.Dikelola oleh Kemenristek.
Ciri-ciri Guru Garuda:
- Direkrut melalui seleksi nasional atau program khusus
- Mendapat pelatihan sebelum penugasan
- Ditempatkan di daerah yang kekurangan tenaga pendidik
- Sistem pembiayaan ditanggung pemerintah
- Bersifat kontrak atau penugasan tertentu
2️⃣ Sekolah Rakyat
Sekolah GRATIS untuk siswa dari keluarga kurang mampu. Dikelola oleh Kemensos.
Ciri-ciri Guru Sekolah Rakyat:
- Mengajar di sekolah berbasis sosial/komunitas
- Fokus pada pendidikan inklusif dan akses pendidikan
- Sumber pendanaan bisa dari yayasan, donatur, atau bantuan pemerintah
- Status kepegawaian tergantung pengelola sekolah
Guru Sekolah Rakyat tidak selalu berstatus ASN atau honorer pemerintah, karena tergantung lembaga penyelenggara.
3️⃣ Sekolah Reguler
Sekolah negeri dan swasta seperti yang kita kenal saat ini. Dikelola oleh Kemendikdasmen.
Ciri-ciri Guru Honorer:
- Bukan PNS dan bukan PPPK
- Diangkat oleh kepala sekolah atau pemerintah daerah
- Digaji melalui dana BOS atau APBD
- Bisa mengikuti seleksi PPPK jika memenuhi syarat
- Status kerja belum tetap
Ya, kini entitas guru dalam struktur sosial pendidik kita telah terbelah menjadi tiga yang sangat kontras.
Kalau belum tahu, Mari kita bedah satu per satu kasta-kastanya
1️⃣ Guru Sekolah Garuda: Sang Bangsawan Intelektual
Inilah kasta tertinggi guru dalam piramida pendidikan kita. Di bawah naungan Kementerian DiktiSaintek, mereka adalah para manusia pilihan yang mengasuh bibit-bibit unggul di sebuah satuan pendidikan bernama “Sekolah Unggul Garuda”.
Syarat untuk menjadi guru jenis ini adalah mutlak: otak harus encer, prestasi selangit, dan lidah yang fasih meliuk-liuk dalam bahasa Inggris aktif.
Pemerintah sangat memanjakan entitas guru ini. Bagaimana tidak? Mereka adalah garda depan yang akan mempersiapkan anak-anak kita bertarung di panggung internasional. Sebagai imbalan atas kecerdasan mereka, negara menyediakan rumah elit dan gaji yang nominalnya mungkin cukup untuk membuat para guru honorer pingsan seketika. Mengajar di sini bukan lagi sekadar pengabdian, melainkan gaya hidup kelas atas.
Pengenalan serentak Sekolah Garuda akan mencakup 12 titik Sekolah Garuda Transformasi dan 4 lokasi pembangunan Sekolah Garuda Baru.
Dua belas Sekolah Garuda Transformasi tersebut antara lain SMAN 10 Fajar Harapan (Aceh), SMA Unggul Del (Sumatera Utara), MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), SMAN Unggulan MH Thamrin (DKI Jakarta), SMA Cahaya Rancamaya (Jawa Barat), SMA Taruna Nusantara dan SMA Pradita Dirgantara (Jawa Tengah), SMAN 10 Samarinda (Kalimantan Timur), SMAN Banua BBS (Kalimantan Selatan), MAN Insan Cendekia Gorontalo (Gorontalo), SMAN Siwalima Ambon (Maluku), dan SMA Averos Sorong (Papua Barat Daya).
2️⃣ Guru Sekolah Rakyat: Sang Penjaga Benteng Sosial
Lompat ke entitas kedua, kita bertemu dengan para martir di bawah Kementerian Sosial. Di satuan pendidikan bernama “Sekolah Rakyat”, guru-guru ini tak ubahnya komandan batalyon bagi anak-anak dari garis kemiskinan terdalam. Mereka mengenakan seragam gagah bak militer, lengkap dengan baret dan sepatu bot yang mengkilap—mungkin sebagai simbol bahwa mendidik anak miskin butuh disiplin sekeras baja.
Mereka tidak pulang ke rumah, melainkan tinggal di asrama, menjadi wali asuh 24 jam. Segala kebutuhan hidup ditanggung negara. Meski harus hidup dalam sekat-sekat asrama, mereka punya marwah seragam yang membuat mereka terlihat sangat berwibawa di mata publik.
3️⃣ Guru Sekolah Negeri: Sang Warga Sipil yang Terlupakan
Terakhir, kita menoleh pada entitas yang paling akrab di telinga, namun paling sunyi dalam fasilitas: Guru Sekolah Negeri. Guru pada umumnya, yang Berada di bawah Kementerian Pendidikan. Mereka adalah pengajar di sekolah-sekolah yang biasa kita lihat sehari-hari di tikungan jalan atau di pelosok kampung.
Berbeda dengan sejawatnya di Sekolah Garuda yang tinggal di komplek elit, atau sejawatnya di Sekolah Rakyat yang tinggal di asrama terjamin, guru sekolah negeri adalah pengembara sejati. Jika punya rezeki lebih, mereka punya rumah sendiri; jika tidak, mereka adalah pelanggan setia kontrakan petakan.
Mereka tidak butuh bahasa Inggris aktif, mungkin karena beban administrasi yang menumpuk sudah cukup menguras kosa kata mereka. Mereka juga tidak butuh topi baret dan seragam yang gagah, karena bagi mereka, bisa sampai di sekolah tepat waktu dengan motor tua di tengah hujan sudah merupakan kemenangan militer tersendiri.
---
Sangat menarik melihat bagaimana negara begitu cekatan membangun istana bagi entitas-entitas baru seperti Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat. Seolah-olah, untuk mencetak prestasi internasional atau menyelamatkan kemiskinan, kita butuh kemewahan dan seragam yang mentereng.
Sementara itu, jutaan guru sekolah negeri yang sudah puluhan tahun menjadi tulang punggung bangsa, tetap dibiarkan menjadi entitas "biasa saja". Mereka adalah saksi bisu bahwa dalam sistem pendidikan kita, kasta itu nyata. Ada yang terbang tinggi dengan Sekolah Garuda, ada yang berbaris rapi di Sekolah Rakyat, dan ada yang tetap "ngontrak" sambil berharap tunjangan sertifikasi cair tepat waktu.